Sabtu, 18 Juli 2009

Proposal Penelitian

Proposal Penelitian



PEMBUATAN KAYU KOMPOSIT DARI LIMBAH SERBUK KAYU DAN PLASTIK POLIETILENA TEREFTALAT (PET) BEKAS DENGAN PENGUAT SERAT POLIPROPILENA TERORIENTASI (PPT)


Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat
yang Diperlukan pada Kurikulum Fakultas Teknik
Universitas Syiah Kuala





Disusun oleh
RAVI IRVAN
0504103010022



















JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Limbah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak karena berakibat langsung terhadap kehidupan mahluk hidup yang ada di bumi ini. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan beberapa kota lainnya, limbah masih menjadi permasalahan yang seakan tidak ada solusinya. Khusus untuk kota Banda Aceh sendiri yang pernah dilanda Tsunami, penanganan limbah membutuhkan dana yang sangat besar, perombakan sistem dan keseriusan serta kesadaran semua pihak terutama warga dan pemerintahnya.
Dalam menangani limbah perkotaan, salah satu yang menjadi permasalahan akut adalah limbah plastik, walaupun jumlahnya hanya 14 %. Plastik merupakan suatu bahan polimer yang sangat susah terdekomposisi oleh mikroorganisme pengurai. Limbah plastik dipandang sebagai masalah yang lebih serius dibandingkan dengan limbah organik karena sifat-sifat khusus yang dimilikinya, yaitu tidak bisa terurai secara alami (non biodegradable), sama sekali tidak menyerap air dan juga tidak dapat berkarat. Karena sifatnya tersebut limbah plastik bisa menimbulkan banyak efek negatif terhadap alam seperti pembentukan film/kantongan yang dapat menyumbat aliran air di parit, selokan, sungai ataupun tempat terbuka yang dapat mengakibatkan genangan air dan tidak jarang bisa menimbulkan banjir. Apabila limbah plastik terdapat didalam tanah maka seluruh unsur hara yang ada dibawah cakupannya akan hilang sehingga dapat merusak stabilitas ekositem tempat tersebut. Lain halnya dengan limbah organik yang kuantitasnya jauh lebih besar tapi bisa terurai di alam dengan sendirinya (Wirjosentono B, 1998).
Ditinjau dari segi ekonomis dan aplikasinya plastik dapat digolongkan dalam 2 golongan utama yaitu plastik komoditi dan plastik teknik. Plastik komoditi dicirikan dengan memiliki volume yang tinggi dan harga yang relatif murah. Plastik jenis ini biasanya digunakan sebagai lapisan pengemas, isolasi kawat dan kabel, bahan baku untuk mainan dan lain sebagainya. Sedangkan plastik teknik cenderung lebih mahal dan memiliki sifat mekanik yang unggul serta memiliki daya tahan yang baik. Plastik jenis ini bersaing dengan logam, keramik dan gelas dalam berbagai jenis aplikasi. Polyester merupakan plastik teknik yang utama yang mencapai 99 % dari plastik teknik yang beredar di pasaran yang dipakai dalam bidang transportasi (mobil, sepeda motor dan pesawat), konstruksi (perumahan, instalasi pipa, perangkat keras), bahan listrik dan elektronik, mesin-mesin industri dan barang-barang konsumsi rumah tangga (Stevans, 2001).
Salah satu penanganan limbah plastik adalah dengan proses daur ulang, walaupun hasilnya belum sebaik hasil olahan plastik segar, ini disebabkan oleh kerusakan dan oksidasi pada rantai molekul plastik selama pembuangan dan adanya pengaruh cuaca serta pengotoran campuran plastik lainnya. Sedangkan proses daur ulang limbah plastik yang berbentuk kantongan/film belum banyak dilakukan karena susah dalam hal pengumpulan(Wirjosentono B, 2000).
Senada dengan itu, dari kegiatan pemanenan dan industri pengolahan kayu dihasilkan limbah kayu berupa potongan-potongan kayu bulat (log), sebetan, serbuk gergajian (saw dust), potongan venir dan lain-lain. Karena industri tersebut masih belum efektif dan efisien dalam hal peralatan dan manajemen, rendemen yang dihasilkan belum optimal sehinga limbah yang dihasilkan mencapai 50 % dari total kayu bulat mentah yang dipanen. Limbah tersebut biasanya hanya dibuang percuma atau hanya sekedar dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak yang mana bisa menimbulkan masalah pencemaran udara dari asap yang dibentuknya. Dari data Departemen Kehutanan dan Perkebunan pada tahun 2006 bahwa limbah kayu yang dihasilkan dari industri kayu lapis dan kayu gergajian diperkirakan mencapai 7.508.019 m3(Wirjosentono B, 2000).
Adanya berbagai masalah lingkungan ini mendorong para ahli untuk mendaur-ulang kembali limbah-limbah ini menjadi kayu komposit. Pemakaian plastik polypropilene bekas dan wood dengan komposisi 50:50 dengan penambahan compatibilizer anhidrida maleat (MAH) 2,5 % menghasilkan kekuatan komposit yang optimal (Setyawati, 2003).
Para pakar industri otomotif Eropa memprediksikan di tahun 2015 penggunaan komposit kayu-plastik akan jauh meningkat karena sedang diupayakannya peraturan bahawa 95 % komponen otomotif harus bisa didaur ulang. Hal ini sudah dipelopori oleh Mercedes Benz sejak tahun 1994 dengan menggunakan plastik polypropilene yang diperkuat serat rami untuk panel interior pada seri E-Class (Ismunandar, 2003).
Dari uraian diatas kami berkeinginan untuk membuat dan meneliti peningkatan kekuatan komposit serbuk kayu-plastik bekas dengan penambahan serat sintetik Polipropilen Terorientasi (PPT) sebagai penguat.

1.2 Perumusan Masalah
Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah berupa serbuk kayu menjadi produk yang bermanfaat. Meskipun penelitian mengenai pemanfaatan limbah serbuk kayu dan plastik bekas melalui pembuatan komposit telah banyak dilakukan namun informasi mengenai pengaruh penambahan serat sintetik Polipropilen Terorientasi (PPT) sebagai penguat belum banyak diketahui. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang efek penambahan serat sintetik Polipropilen Terorientasi (PPT) pada komposit kayu-plastik terkait dengan ketahanan dan kekuatan mekanisnya.

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan serat sintetik Polipropilen Terorientasi (PPT) pada komposit kayu-plastik terhadap ketahanan dan kekuatan mekanisnya.

1.4 Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan suatu informasi baru tentang pemanfaatan plastik bekas dan serbuk gergajian dengan penguat serat sintetik PPT yang lebih berdaya-guna dalam bentuk komposit dan semoga metode yang digunakan dapat dimanfaatkan oleh industri-industri yang ada.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Serbuk Kayu
Penanganan limbah kayu yang dihasilkan oleh industri pengolahan kayu di Indonesia masih belum optimal karena peralatan yang kurang memadai. Limbah kayu berupa potongan log maupun sebetan sejauh ini telah dimanfaatkan sebagai inti papan blok dan bahan baku papan partikel. Adapun limbah berupa serbuk gergaji biasanya hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar saja. Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial, namun untuk industri kecil yang tersebar di berbagai daerah dan jumlahnya mencapai ribuan unit limbah ini belum dimanfaatkan secara maksimal. (Setyawati, 2003).
Tipe-tipe utama partikel kayu yang digunakan sebagai bahan pengisi (filler) yaitu :
a. Tatal, yaitu bentuk kepingan yang dipotong dari suatu balok dengan memakai pisau yang besar atau pemukul, seperti mesin pembuatan tatal kayu pulp.
b. Pasahan, yaitu partikel kayu berdimensi yang tidak menentu yang dihasilkan apabila mengentam lebar atau mengentam sisi ketebalan kayu, ketebalannya bervariasi dan sering tergulung.
c. Serpih, yaitu partikel kecil dengan dimensi yang telah ditentukan sebelumnya yang dihasilkan dari peralatan yang telah dikhususkan. Ketebalannya seragam dan orientasi serat sejajar permukaannya.
d. Biskit, merupakan partikel yang berbentuk serpihan namun lebih besar ukurannya.
e. Untaian, merupakan pasahan dalam bentuk panjang dan pipih dengan permukaan yang sejajar.
f. Kerat, yaitu potongan-potongan melintang dalam bentuk persegi dengan panjang paling sedikit empat kali ketebalannya.
g. Serbuk gergaji, merupakan partikel kayu halus yang dihasilkan dari pemotongan oleh gergaji kayu (Putra, 2009).

Gambar 2.1 Serbuk kayu

2.1.1 Klasifikasi Kayu
Pada dasarnya akan sangat sulit sekali mengelompokkan ribuan bahkan jutaan jenis kayu yang ada di bumi ini. Namun secara umum kayu dibagi atas dua golongan besar, yaitu kayu keras dan kayu lunak. Kayu yang berasal dari pohon berdaun lebar umumnya keras, sedangkan kayu yang berasal dari pohon berdaun jarum lebih lunak. Namun di antara pohon-pohon yang sejenis akan didapati kekerasan yang berbeda. Bahkan pada satu jenis pohon yang sejenis sering juga didapati kekerasan batang yang tidak sama. Sebab proses pertumbuhan di seluruh tempat tidak berlangsung dengan kecepatan atau cara yang sama karena dipengaruhi lansung oleh nutrisi dan kultur tempat pohon tersebut tumbuh. Kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan adalah kayu olahan yang diperoleh dengan jalan mengkonversikan kayu bulat menjadi kayu berbentuk balok, papan atau bentuk lain sesuai dengan tujuan penggunaannya.

2.1.2 Sifat Fisik Kayu
Sifat fisik dari kayu adalah karakteristik kuantitatif dan kemampuan untuk tahan terhadap pengaruh dari luar. Sifat fisik ini sangat penting untuk diketahui karena punya pengaruh besar terhadap kekuatan dan tampilan kayu yang digunakan. Sifat fisik dari kayu juga mempengaruhi sifat mekaniknya.


Sifat fisik kayu ditentukan oleh tiga ciri, yaitu:
a. Porositas atau ukuran volume rongga, yang dapat diperkirakan dengan mengukur kerapatannya.
b. Organisasi struktur sel, yang meliputi struktur mikro dinding sel, variasi dan ukuran besarnya sel.
c. Kandungan air.

Beberapa hal yang tergolong dalam sifat kayu adalah berat jenis, yaitu : keawetan alami, higroskopik, berat volume dan kekerasan. Keawetan alami adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar, seperti jamur, rayap, bubuk, cacing laut dan mahkluk lainnya yang diukur dengan jangka waktu tahunan.
Kayu juga mempunyai sifat higroskopik, yaitu dapat menyerap dan melepaskan air atau kelembaban. Kelembaban kayu sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara pada suatu tempat. Semakin lembab udara di sekitarnya akan semakin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Masuk dan keluarnya air dari kayu akan mengakibatkan kayu tersebut mengembang atau menyusut (Putra, 2009).

2.1.3 Sifat Mekanik Kayu
Sifat mekanik kayu ialah sifat-sifat yang terkandung pada suatu kayu terkait kemampuan kayu tersebut menahan ataupun melawan gaya dan beban yang datang dari luar. Yang dimaksud dengan beban dari luar yaitu gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah posisi, bentuk dan ukuran benda tempat gaya tersebut bekerja. Kekuatan kayu memegang peranan penting dalam penggunaan kayu terutama sekali untuk bangunan, oleh karena itu hampir pada semua pengguna kayu dibutuhkan syarat kekuatan.

2.1.4 Kandungan Air dalam Kayu
Kadar air adalah jumlah air yang dikandung oleh kayu. Banyaknya air di dalam kayu selalu berubah-ubah tergantung pada suhu atau udara di sekelilingnya. Semua sifat fisik kayu sangat dipengaruhi oleh perubahan kadar air kayu. Oleh karena itu, dalam penggunaan kayu sebagai bahan baku bangunan, perabot dan lain sebagainya perlu diketahui kandungan kadar air pada kayu tersebut. Keadaan air yang terdapat di dalam kayu terdiri atas dua macam, yaitu:
a. Air bebas, yaitu air yang terdapat dalam ronggga-rongga sel, cenderung mudah dan terdahulu terlepas dari kayu. Air bebas umumnya tidak mempengaruhi sifat dan bentuk kayu kecuali berat kayu.
b. Air terikat, yaitu air yang berada dalam dinding-dinding sel kayu dan sangat sulit untuk dilepaskan. Air yang berada pada dinding-dinding sel inilah yang berpengaruh pada sifat-sifat kayu dan menyebabkan penyusutan (Putra, 2009).

2.1.5 Serbuk kayu sebagai bahan pengisi (Filler)
Filler ditambahkan ke dalam matriks dengan tujuan meningkatkan sifat-sifat mekanis plastik melalui penyebaran tekanan yang efektif di antara serat dan matriks. Selain itu penambahan filler akan mengurangi biaya disamping memperbaiki beberapa sifat produknya (Han, 1990).
Bahan-bahan anorganik seperti kalsium karbonat, talc, mika, dan fiberglass merupakan bahan yang paling banyak digunakan sebagai filler dalam industri plastik. Penambahan kalsium karbonat, mika dan talc dapat meningkatkan kekuatan plastik, tetapi berat produk yang dihasilkan juga meningkat sehingga biaya pengangkutan menjadi lebih tinggi. Selain itu, kalsium karbonat dan talc bersifat abrasif terhadap peralatan yang digunakan, sehingga memperpendek umur pemakaian. Penambahan fiberglass dapat meningkatkan kekuatan produk tetapi harganya sangat mahal. Oleh karena itu penggunaan bahan organik, seperti kayu sebagai filler dalam industri plastik mulai mendapat perhatian. Di Indonesia potensi kayu sebagai filler sangat besar, terutama limbah serbuk kayu yang pemanfaatannya masih belum optimal.
Menurut Strak dan Berger (1997), serbuk kayu memiliki kelebihan sebagai filler bila dibandingkan dengan filler mineral seperti mika, kalsium karbonat, dan talc yaitu: temperatur proses lebih rendah (kurang dari 400ºF) dengan demikian mengurangi biaya energi, dapat terdegradasi secara alami, berat jenisnya jauh lebih rendah, sehingga biaya per volume lebih murah, gaya geseknya rendah sehingga tidak merusak peralatan pada proses pembuatan, serta berasal dari sumber yang dapat diperbaharui
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan serbuk kayu sebagai filler dalam pembuatan komposit kayu plastik adalah jenis kayu, ukuran serbuk serta nisbah antara serbuk kayu dan plastik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sifat dasar dari serbuk kayu itu sendiri. Kayu merupakan bahan yang sebagian besar terdiri dari selulosa (40-50%), hemiselulosa (20-30%), lignin (20-30%), dan sejumlah kecil bahan-bahan anorganik dan ekstraktif. Karenanya kayu bersifat hidrofilik, kaku, serta dapat terdegradasi secara biologis. Sifat-sifat tersebut menyebabkan kayu kurang sesuai bila digabungkan dengan plastik, karena itu dalam pembuatan komposit kayu-plastik diperlukan bantuan coupling agent (Febrianto,1999).

2.2 Plastik
Plastik merupakan suatu bahan polimer yang tidak mudah terdekomposisi oleh mikroorganisme pengurai karena sifat-sifat khusus yang dimilikinya yaitu suatu polimer rantai panjang sehingga bobot molekulnya tinggi dimana atom-atom penyusunnya saling mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul dan susunan rantai yang linear, bercabang ataupun tata jaringan berulang yang disebut monomer yang sangat sulit diputus. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, klor atau belerang di tulang belakang. Tulang belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan bergantung dari tulang belakang (biasanya digantung sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti : karet alami) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti : permen karet) dan akhirnya ke molekul buatan manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene) (Anonimous, 2009).
Plastik merupakan bagian dari molekul hidrokarbon zat yang penyusun dasarnya adalah karbon dan hidrogen. Contoh dari ikatan kovalen diantaranya: Ikatan tunggal C-C, ikatan ganda C=C atau ikatan rangkap 3 C≡C. Molekul dari plastik sering disebut dengan makro molekul karena ukurannya sangat besar dilihat dari panjang rantai karbonnya. Untuk menyederhanakan struktur kimia dari makro molekul, maka digunakan penyingkatan. Bagian terkecil dari rantai karbon yang panjang disebut dengan mer atau monomer. Polimerisasi artinya penggabungan bersama monomer. Sekarang ini ada ribuan jenis plastik, tapi pada dasarnya, atom-atom penyusun inti plastik adalah Karbon (C), Hidrogen (H) dan beberapa tambahan atom Oksigen (O), Nitrogen (N), Klor (Cl), Flour (F) dan belerang (S). Penyusun kimia paling dasar dari plastik disebut dengan homopolimer karena hanya terdiri dari satu struktur dasar.

2.2.1 Jenis-Jenis Plastik
Secara garis besar, plastik dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu, yang bersifat termoset dan termoplastik. Termoset adalah plastik yang mengalami polimerisasi kembali jika dipanaskan. Oleh karena itu, panas akan menimbulkan set tambahan. Plastik jenis ini tidak akan mengalami pelunakan jika dipanaskan karena sudah membentuk jaringan sehingga tidak dapat didaur ulang. Dalam aplikasinya ia sering dipakai sebagai alat listrik dan elektronik, perekat plywood, konstruksi dan lain-lain. Sedangkan termoplastik adalah plastik yang dapat didaur ulang atau dibentuk kembali dengan jalan pemanasan. Jenis plastik ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kemasan botol plastik, ember plastik, kantong plastik, suku cadang kendaraan bermotor, barang elektronik, peralatan rumah tangga dan lain sebagainya yang bersifat disposable.
Umumnya, setiap wadah plastik dicantumi tanda atau kode angka yang menandakan bahan pembuatan kemasan plastik. Kode angka berada di dalam logo daur ulang berbentuk segitiga dan bisa Anda temui di dasar atau bagian bawah kemasan. Kode-kode itu dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standarization). Tujuannya untuk memudahkan konsumen mengenali bahaya dan keamanan wadah yang terbuat dari plastik.
Tanda pengenal plastik itu sendiri dibagi menjadi 7 kelompok, yaitu :
Angka1
Tanda ini biasanya disertai tulisan PET (polyethylene terephthalate). Plastik jenis ini berwarna jernih atau transparan dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman ringan lain. Yang perlu diperhatikan adalah botol dengan bahan ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Mengapa? Pertama, desain leher sempit pada botol membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan bakteri dari tangan dan mulut dapat tumbuh di botol. Kedua, bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (yang dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.

Angka2
Umumnya, kode ini disertai tulisan HDPE (high density polyethylene). Jenis plastik ini memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasa dipakai untuk botol kemasan susu berwarna putih, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan atau minuman yang dikemasnya. Meski begitu, sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian saja. Pasalnya, untuk membuat PET dan HDPE digunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa kimia itu mudah masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Kontaminasi senyawa dalam periode lama akan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi perempuan, senyawa ini bisa meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran.

Angka3
Inilah jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Pada kemasan yang mengandung plastik jenis ini biasanya tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya serta tulisan V yang berarti PVC (polyvinyl chloride). Plastik ini bisa ditemukan pada pembungkus (wrap) dan beberapa botol minuman kemasan. Jenis ini berbahaya untuk kesehatan karena mengandung DEHA (Di-2-etil-heksiladipat) yang dapat bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15 derajat celsius. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas plastik ini berbahaya untuk ginjal, hati dan penurunan berat badan. Sebisa mungkin hindari pemakaian jenis plastik ini. Cari alternatif pembungkus lain saja seperti plastik dari polyethylene atau bahan alami, misalnya daun pisang atau daun jati.

Angka4
Biasanya ditulis bersama kode LDPE (low density polyethylene). Karakter plastik ini kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dengan permukaan agak berlemak. Terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Pada suhu di bawah 60 derajat Celsius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa kimia. Daya proteksinya terhadap uap air tergolong baik. Namun, kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan tapi dapat didaur ulang. Bahan ini baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemasnya.

Angka5
Tulisan PP (polypropylene) biasanya hadir bersama angka ini. Karakteristik plastik ini lebih kuat, transparan yang tidak jernih atau berawan, ringan dengan daya tembus uap yang rendah, memiliki ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. PP adalah jenis bahan plastik terbaik dan aman, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol susu untuk bayi serta wadah plastik yang bisa dipanaskan dalam microwave. Sebaiknya carilah wadah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.
Angka6
Terbuat dari bahan plastik jenis PS (polystyrene). PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ketika makanan itu bersentuhan dengan wadah. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf. Selain itu, bahan plastik ini sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat panjang dan lama.

Angka7
Biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis plastik ini terbagi 4 yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER dapat ditemukan pada botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik, dan plastik kemasan, botol susu bayi, gelas balita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan, termasuk kaleng susu formula.
Sebenarnya PC tidak dianjurkan sebagai wadah karena dapat mengeluarkan bahan utamanya, Bisphenol A ke dalam makanan dan minuman. Efeknya, bisa merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Sedangkan SAN dan ABS baik digunakan sebagai kemasan karena memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu. Biasanya SAN terdapat pada mangkuk miksaer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi. Sementara ABS digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.


















Gambar 2.2 Simbol Jenis-Jenis Plastik

2.2.2 Polyetilene Tereftalat (PET)

Polyetilene tereftalat (PET) merupakan Polyester linier yang mempunyai titik leleh 2650C, polimer ini dibuat dari reaksi polikondensasi yang dipreparasi dari asam tereftalat dan etilena glikol, biasanya dibuat dalam bentuk padatan atau dalam larutan dengan memakai etilena glikol berlebih untuk menaikkan laju esterifikasi. Proses ini mula-mula menghasilkan poliester terminasi hidroksil yang berat molekulnya rendah, dan kemudian ditransesterifikasi dengan lepasnya glikol berlebih untuk memperoleh polimer dengan berat molekul tinggi. Reaksinya seperti ditunjukkan oleh gambar 2.3 berikut :

Gambar 2.3 Reaksi Esterifikasi PET

PET banyak dibuat sebagai kemasan botol plastik khususnya botol air mineral. Struktur molekul PET adalah semikristalin dan mempunyai sifat-sifat yaitu berupa lapisan film lunak yang transparan dan fleksibel, mempunyai kekuatan benturan serta kekuatan sobek yang baik. Namun apabila ia didaur-ulang maka akan menurunkan kualitasnya (Sitepu, 1992). Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, PET mempunyai ketebalan 0,001 sampai 0,01 inci, juga banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang termoplastik, PET mudah dibuat menjadi kantung dengan derajat kerapatan yang baik (Nurmimah, 2002).
PET hanya dapat dipakai 1 atau 2 kali saja atau paling lama 1 minggu dan harus diletakkan jauh dari sinar matahari lansung, hal ini karena botol-botol ini mengandung zat karsinogen, jadi sebaiknya setelah dipakai 1 atau 2 kali botol-botol ini langsung dibuang atau didaur ulang.

Tabel 2.1 Sifat-sifat PET secara umum
aaa Sifat mekanik dan fisika Nilai/Satuan
Spesifik gravity 1,3
Tensile 48 -72 (Mpa)
Modulus Elastis 2760 – 4140 (Mpa)
Elongasi 50 – 300 %
Kekuatan kompresi 76 -103 (Mpa)
Kekuatan fleksur 96 – 124 (Mpa)
Kekuatan impact/benturan 0,14 – 0,37 (N/cm)
Titik leleh 2650C
Suhu transisi glass 690C
Density 1,41 gr/cm3
Sumber : Stevans, 1989

2.3 Plastik PET Bekas sebagai Matriks
Di Indonesia, plastik bekas sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik bekas sebagai bahan konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980-an, di Inggris dan Italia plastik bekas telah digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik bekas dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).
Pemanfaatan plastik bekas dalam bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pembuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder (perekat) sedangkan kayu sebagai komponen utama, dan yang kedua kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya.

2.4 Serat Polipropilena Terorientasi (PPT)
Serat harus mempunyai modulus dan kekuatan yang tinggi, elongasi dan stabilitas panas serta spinalitas yang baik serta sifat-sifat lainnya sesuai dengan aplikasinya. Polipropilena terorientasi merupakan suatu polimer yang tersusun dari rantai-rantai lurus yang bersatu karana ikatan hidrogen atau tarik menarik dipol-dipol.
Bila bahan polimer ditarik ke suatu arah, maka ranatai-rantai molekul akan cenderung terorientasi pada arah tarikan, maka vibrasi ikatan yang tegak lurus arah tarikan akan dibatasi dan menjadi tidak peka terhadap serapan radiasi. Orientasi rantai polimer pada daerah kristal juga akan berbeda dibandingkan pada daerah amorf (Basuki, 1995).
Struktur polimer yang demikian akan menghasilkan serat-serat atau plastik keras yang dapat dicetak dan sudah dalam bentuk mengkristal sesudah ditarik.

2.5 Maleat Anhidrida sebagai Softening Agent
Softening Agent merupakan zat yang berfungsi untuk melunakkan matriks supaya dapat dengan mudah menyatu dengan bahan penguat. Jika permukaan matriks lunak maka akan timbul adhesi sehingga antara matriks dan serat dapat saling mengikat dan menyatu sempurna karena system yang dipakai adalah penyusunan serat yang berlapis. Dalam penelitian ini Softening Agent yang digunakan adalah Maleat Anhidrida (MAH) 2,5 %. Maleat Anhidrida (MAH) termasuk kepada senyawa vinil tak jenuh dan merupakan bahan mentah sintesis resin poliester, pelapisan permukaan karet, deterjen, bahan adiktif, bahan pelumas, plastisizer dan kopolimer. Maleat Anhidrida mempunyai sifat kimia yang khas yaitu adanya ikatan etilenik dengan gugus karboksil yang sangat berperan dalam reaksi adisi.





Gambar 2.2 Struktur Maleat Anhidrida (MAH)

Tabel 2. Sifat-sifat MAH secara umum
aaa Sifat mekanik dan fisika Nilai/Satuan
Spesifik gravity 1,5
Berat molekul 98,06
Titik leleh 57,60C
Titik didih 2020C
Titik nyala 4760C
Bentuk Jarum
Warna Bening atau putih
Larut Air, acetone, dioxin dan alkohol
Sumber : Stevans, 1989
Dalam pemelitian ini, diharapkan Maleat Anhidrida (MAH) bisa menjadi senyawa penghubung antara PET dan PPT

2.6 Komposit Serbuk Kayu-Plastik PET Bekas
Secara umum komposit dapat diartikan sebagai suatu bahan dengan gabungan dua atau lebih komponen untuk menghasilkan sifat atau ciri-ciri yang tidak dapat dicapai masing-masing komponen tersebut tanpa dipadukan dengan bahan lainnya. Sedangkan komposit kayu-plastik merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kayu yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang lebih kecil dan direkatkan bersama-sama (Maloney, 1996). Mengacu kepada pengertian diatas, maka komposit kayu-plastik mencakup hal ataupun bahan komposit yang mengandung kayu (dari berbagai bentuk) dan resin termoset atau termoplastik. Resin termoset merupakan plastik yang dibuat melalui proses pemanasan dan tekanan kemudian mengalami perubahan kimia yang membuatnya keras. Pemanasan kembali tidak akan melunakkan plastik jenis ini. Sedangkan termoplastik merupakan plastik yang dapat berulangkali dilunakkan, contohnya plastik Plastik PET bekas dan polivinil klorida (PVC).
Komposit kayu-plastik termoset diperkenalkan pada awal tahun 1900-an. Produk komersial komposit ini pertamakali dipasarkan dengan merek dagang Bakelite, yang terbuat dari phenol formaldehyde dan tepung kayu (Sumanto, 1994). Penggunaan komersial pertamakali dilaporkan sebagai gearshift knob untuk Rolls Royce pada tahun 1916. Komposit kayu-plastik telah diproduksi di Amerika selama beberapa dekade (Clemons, 2002). Beberapa contoh kayu komposit terlihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Kayu Komposit dan Lantai Kayu Komposit

Kebanyakan komposit termoplastik menggunakan bahan pengisi yang bersifat tidak terbarukan (non renewable), seperti serat kaca atau mineral. USDA forest service, Forest Produsts Laboratory (FPL) telah menghasilkan database penting yang menunjukkan bahwa komposit termoplastik yang dibuat dari limbah kertas atau limbah serat kayu memberikan hasil yang positif dan sangat bermanfaat. Keunggulan dari komposit yang terbuat dari limbah serat kayu ini adalah bersifat terbarukan , murah, ringan dan tidak abrasif pada alat prosesnya.
Dalam pembuatan komposit, suatu matriks harus digabungkan dengan bahan penguat dan bahan penghubung lainnya supaya dapat memiliki sifat-sifat yang lebih baik dibandingkan sifat bahan tunggal. Salah satu bahan penguat yang baik digunakan adalah dalam bentuk serat. Serat dapat berupa serat kaca (fiber glass), serat kayu, serbuk dll. Secara umum, serat kaca adalah bahan penguat terbaik yang menghasilkan sifat mekanis yang optimal pada pebuatan komposit karena titik lelehnya tinggi dan berdaya-tahan lama, namun karena harganya yang mahal mendorong orang untuk lebih cenderung memakai serat tumbuhan disamping memang bersifat biodegradable (Zulnazri, 2005). Serat kayu sering digabungkan dengan plastik seperti etilena, polypropilene, dan comingled thermoplastic menggunakan teknologi melt-blending yang murah, kecepatan proses yang tinggi dimana kayu dan kertas dicampur dengan mengunakan molten-plastic. Campuran ini dapat dibentuk menjadi produk dengan menggunakan proses plastic convensional seperti ekstruksi dan molding injeksi. Plastik bertindak sebagai matriks penyatu kayu selama proses, sedangkan kayu membawa beban pada produk akhir komposit, yang menandakan keseimbangan efektif kemampuan proses dan kekuatan dari produk akhir (Youngquist, 1995).
Pada dasarnya pembuatan komposit serbuk kayu ini dapat dibuat melalui proses satu tahap, proses dua tahap, maupun proses kontinyu. Pada proses satu tahap, semua bahan baku dicampur terlebih dahulu secara manual kemudian dimasukkan ke dalam alat pengadon (kneader) dan diproses sampai menghasilkan produk komposit. Pada proses dua tahap bahan baku plastik dimodifikasi terlebih dahulu, kemudian bahan pengisi dicampur secara bersamaan di dalam kneader dan dibentuk menjadi komposit. Kombinasi dari tahap-tahap ini dikenal dengan proses kontinyu. Pada proses ini bahan baku dimasukkan secara bertahap dan berurutan di dalam kneader kemudian diproses sampai menjadi produk komposit. Umumnya proses dua tahap menghasilkan produk yang lebih baik dari proses satu tahap, namun proses satu tahap memerlukan waktu yang lebih singkat.



Tahap pembuatan kayu komposit adalah :
a. Penyiapan filler
Pada prinsipnya penyiapan filler ditujukan untuk mendapatkan serbuk kayu atau tepung kayu dengan ukuran dan kadar air, jenis dan ukuran yang seragam. Demikian pula halnya dengan limbah plastik yang akan dipakai. Makin halus serbuk semakin besar kontak permukaan antara filler dengan matriksnya, sehingga produk menjadi lebih homogen. Akan tetapi, bila ditinjau dari segi dekoratif, komposit dengan ukuran serbuk yang lebih besar akan menghasilkan penampakkan yang lebih baik karena sebaran serbuk kayunya memberikan nilai tersendiri.
b. Blending (Pengadonan)
Tahap-tahap dalam pengadonan ini disesuaikan dengan proses yang digunakan, satu tahap, dua tahap, atau kontinyu. Kondisi pengadonan yang paling berpengaruh dalam pembuatan komposit adalah suhu, laju rotasi dan waktu pengadonan.
c. Pembentukan Komposit
Setelah proses pencampuran selesai, sampel langsung dikeluarkan untuk dibentuk menjadi lembaran dengan kempa panas. Pengempaan dilakukan selama 10 menit dengan tekanan sebesar 100 kgf/cm2 pada suhu 250ºC. Adonan dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama dituangkan dan dikempa, kemudian diletakkan serat PPT diatasnya. Sisa adonan dituangkan keatas cetakan dan dikempa lagi. Setelah itu dilakukan pengempaan dingin pada tekanan yang sama selama 10 menit, lembaran kemudian didinginkan pada suhu kamar.
d. Pengujian Komposit
Pengujian komposit dilakukan untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk suatu penggunaan tertentu. Jenis pengujian disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya meliputi pengujian terhadap sifat fisis, mekanis, serta thermal komposit.

2.7 Pengujian
2.7.1 Pengujian Kekerasan
Kekerasan didefinisikan sebagai ketahanan suatu material terhadap indentasi/penetrasi permanen akibat beban dinamis atau statis. Beberapa definisi kekerasan lainnya adalah:
- Energi yang diserap pada beban impact (kekerasan pantul)
- Ketahanan terhadap goresan (kekerasan goresan)
- Ketahanan terhadap abrasi (kekerasan abrasi)
- Ketahanan terhadap pemotongan/pengeboran (mampu mesin)
Hasil pengujian kekerasan tidak dapat diaplikasikan langsung dalam mendesain suatu konstruksi seperti halnya hasil pengujian tarik. Namun demikian angka kekerasan material merupakan salah satu sifat mekanik yang penting dalam memilih suatu material. Pengujian kekerasan banyak dilakukan karena proses pengujian yang relatif sederhana dibandingkan dengan proses pengujian material lainnya. Hasil pengujian kekerasan dapat digunakan antara lain untuk:
a. Menentukan penggunaan dari bahan
Klasifikasi suatu bahan dapat didasarkan pada kekerasannya. Dari nilai kekerasan akan dapat ditentukan penggunaan dari bahan tersebut.
b. Kontrol kualitas suatu produk
Dengan pengujian kekerasan dapat diketahui homogenitas suatu bahan akibat suatu proses pembentukan dingin, pengelasan, heat treatment, case hardening dan sebagainya. Dengan demikian pengujian kekerasan dapat juga berfungsi sebagai kontrol terhadap proses yang dilakukan.
Pengujian kekerasan Rockwell yaitu angka kekerasan sebagai fungsi dari kedalaman indentasi pada spesimen akibat pembebanan statis. Pada pengujian Rockwell beban dan indentor yang digunakan lebih kecil dibandingkan dengan pengujian Brinell. Angka kekerasan langsung ditunjukkan pada mesin sehingga waktu pengujian relatif lebih singkat dan sangat sesuai digunakan di lapangan.



2.7.2 Pengujian Tarik
Kekuatan tarik merupakam sifat mekanik logam yang penting, terutama untuk perencanaan konstruksi maupun pengerjaan logam. Kekuatan tarik suatu bahan dapat diketahui dengan melakukan pengujian tarik pada bahan yang bersangkutan. Dari hasil pengujian tarik tersebut dapat diketahui pula sifat-sifat lain seperti kekuatan mulur, perpanjangan, reduksi penampang, modulus elastisitas dan sebagainya.
Kekuatan tarik adalah besarnya beban maksimum persatuan daerah penampang awal spesimen uji, sebagaimana ditunjukkan pada rumus berikut ini (Ridha dkk, 2007) :

Dimana:
= Kekuatan tarik
P = Beban maksimum
A = Luas Penampang

2.7.3 Differential Scanning Calorimetry (DSC)
Differential Scanning Calorymeter (DSC) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengetahui apa saja yang terjadi jika suatu bahan dipanaskan. Pada prinsipnya DSC digunakan untuk menghitung jumlah energi yang diserap atau dibebaskan oleh sebuah sampel yang dipanaskan, didinginkan atau ditahan pada temperatur konstan (isotermal). Ketika sampel mengalami perubahan fisika seperti perubahan fasa, sedikit atau banyak panas akan dibutuhkan untuk sampel dibandingkan panas sampel referensi untuk memeliharanya pada temperatur yang sama. Hal ini dapat terjadi pada proses eksoterm atau endoterm. Contoh sebuah sampel padatan meleleh, dalam hal ini membutuhkan panas untuk menaikkan temperatur pada kecepatan yang sama dengan sampel referensi. Ini juga terjadi pada penyerapan panas oleh sampel yang berubah fasa dari padat ke cair pada keadaan endoterm. Begitu juga pada proses eksoterm (seperti kristalisasi), membutuhkan panas untuk menaikkan temperatur sampel. Selain mampu untuk mengukur berapa panas yang dibutuhkan dan dilepaskan sampel dan sampel referensi, DSC juga bisa melihat perubahan fasa yang halus (lebih sulit dipisahkan), seperti transisi gelas/kaca. DSC sudah banyak digunakan di dalam industri sebagai peralatan dalam quality control (QC), mengevaluasi kemurnian sampel, serta mempelajari ketahanan (keawetan) dari suatu polimer.
Dengan menggunakan DSC ada beberapa hal yang dapat ditentukan diantaranya sebagai berikut:
1. Mengukur titik leleh (Tm), yaitu temperatur (oC) ketika polimer meleleh.
2. Titik kristalisasi (Tc), temperatur (oC) ketika polimer mengkristal ketika dipanaskan atau didinginkan.
3. Transisi gelas (Tg), temperatur (oC) polimer ketika ia berubah keadaan dari keadaan yang keras kepada keadaan yang lebih lunak.
4. Hm, sejumlah energi (joule/gram) yang dibutuhkan/ diserap sampel ketika meleleh.
5. Hc, sejumlah energi (joule/gram) yang dilepaskan ketika polimer mengkristal.














BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini InsyaAllah akan dilakukan pada bulan Mei hingga Juli 2009 di Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Laboratorium Bioproses di Jurusan Teknik Kimia, Laboratorium Material di Jurusan Teknik Mesin, Laboratorium Material di Jurusan Fisika Fakultas MIPA, Universitas Syiah Kuala dan Laboratorium Kimia polimer Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat-alat yang digunakan
a. Ayakan dengan ukuran 1000 dan 2000 micron (Macross Testing Sieve)
b. Timbangan digital (Metler Toledo)
c. Oven (Gallenkamp)
d. Tangki berpengaduk / Labu leher tiga
e. Penangas (Corning)
f. Motor pengaduk (Fisher Scientific)
g. Cetakan uji tarik (ASTM D 638-99 tipe 1) dan uji kekerasan (ASTM D 785)
h. Hot press (Rakitan, Temperature Range 29-300oC)
i. Alat uji kekerasan (EMCOTEST)
j. Alat uji tarik (tensile strength)
k. Alat uji thermal (Differential Scanning Calorimetry (DSC-60))

3.2.2 Bahan-bahan yang digunakan
a. Serbuk kayu sebagai bahan pengisi (filler) dengan ukuran 1000-2000 micron yang berasal dari hasil gergajian kayu jenis Simantok yang diambil dari industri kayu di daerah Tungkop, Darussalam.
b. Plastik PET Bekas dalam bentuk kemasan botol air mineral sebagai matriks yang didapatkan dari TPA sampah Gampong Jawa.
c. Plastik PPT dalam bentuk karung plastik sebagai serat penguat yang diperoleh dari Pasar Aceh.
d. Softening Agent MAH ( Maleat AnHidrat) 2,5 % diperoleh dari Laboraturium Kimia Polimer FMIPA

3.3 Perlakuan dan Rancangan Percobaan
3.3.1 Variabel Tetap
a. Ukuran partikel serbuk kayu : 1000 - 2000 micron
b. Waktu pengempaan : 10 menit (Zulnazri, 2005)
c. Suhu pengempaan : 2500C (Zulnazri, 2005).
d. Softening Agent MAH ( Maleat AnHidrat)

3.3.2 Variabel yang berubah
a. Komposisi serbuk kayu dan plastik PET (50:50, 60:40, 70:30)
b. Serat sintetik PPT yang digunakan sebagai penguat

3.4. Metodelogi Penelitian
3.4.1 Prosedur Percobaan
A. Penyiapan Sampel.
Bahan yang akan digunakan sebagai bahan pengisi berupa serbuk kayu yang diayak untuk menyamakan ukuran kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105oC selama 24 jam untuk mengurangi kadar air terikat yang terkandung di dalam serbuk kayu tersebut. Kemudian disimpan dalam desicator untuk mencegah kontak dengan udara luar dan juga untuk menyerap sisa-sisa air terikat yang masih terkandung dalam serbuk kayu

B. Proses Pembuatan
Adapun tahap pembuatan komposit ini adalah sebagai berikut:
1. Plastik PET bekas dan serbuk kayu yang telah diayak dan dikeringkan lalu ditimbang sesuai dengan perbandingan komposisi masing-masing (50:50, 60:40, 70:30) berdasarkan persen berat
2. Dipasang labu leher tiga ke dalam penangas.
3. Plastik PET bekas dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan ditambahkan pelarut Maleat anhidrida (MAH) 2,5 % sebanyak 50 ml untuk mencairkan Plastik PET bekas (Zulnazri, 2005).
4. Dihidupkan penangas dan set temperatur sekitar 250oC sesuai dengan titik leleh plastik plastik PET bekas (Stevans, 1989).
5. Serbuk kayu dimasukkan setelah Plastik PET bekas mencair dan diaduk hingga homogen selama ±15 menit (Zulnazri, 2005).
6. Campuran yang sudah homogen dikeluarkan dari labu dan dibiarkan hingga pelarut menguap selama 24 jam.
7. Campuran tersebut lalu dituang kedalam cetakan sembari dilapisi dengan serat PPT didalamya.
8. Dilakukan pengempaan dengan hot press pada suhu 250oC selama 10 menit (Zulnazri, 2005).
9. Dibentuk sesuai standar pengujian
10. Dilakukan pengujian kekerasan, uji tarik dan termal.

C. Pengujian Kekuatan Makanis Komposit
Adapun pengujian yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah:
1. Uji kekerasan di Laboratorium Material Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Unsyiah.
2. Uji termal menggunakan DCS (Differential Scanning Calorimeter) di Laboratorium Katalis dan Katalisis Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Unsyiah.
3. Uji tarik pada Laboratorium Material Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Unsyiah.

Untuk spesimen uji kekerasan digunakan standar ASTM D 785 dengan ketebalan 6,4 mm dan diameter 25 mm.


Berikut gambar untuk spesimen uji tarik digunakan standar ASTM 638-99 tipe 1,


W Wo

L

D

LO
Gambar 3.1 Bentuk spesimen uji tarik
Dimana:
LO (panjang specimen keseluruhan) : 165 mm
D (jarak antar grip/penjepit : 115 mm
L (panjang bagian penampang kecil) : 57 mm
Wo (lebar penjepit) : 19 mm
W (lebar bagian penampang kecil) : 13 mm
Tebal spesimen : 3 mm
















Gambar 3.2 Skema proses pembuatan kayu komposit
3.4.2 Tahap Analisa Data
Data hasil pengujian akan dianalisa dalam bentuk grafik dan statistik.

3.5 Jadwal Penelitian
Pelaksanaan penelitian direncanakan selama 12 minggu dengan perincian kegiatan dan alokasi waktu ditunjukkan pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Jadwal pelaksanaan penelitian
Kegiatan Bulan ke
1 2 3
Minggu ke Minggu ke Minggu ke
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.Penyempurnaan proposal
2. Persiapan Alat dan Bahan
3. Melakukan Penelitian
4. Analisa uji kekerasan
5. Analisa uji tarik & DSC
6. Penyusunan Laporan
7. Penyerahan Laporan Akhir
8. Disseminasi hasil

3 komentar: